Mata pelajaran: IPS Sejarah
Kelas: XII SMA
Kategori: Kerajaan Bercorak Hindu di Indonesia
Kode Kategori berdasarkan kurikulum KTSP:
11.3.1
Kata kunci: sebab runtuhnya, kerajaan buleleng
Jawaban:
sebab runtuhnya kerajaan buleleng yaitu perjuangan melawan penindasan kepada pemerintah Hindia Belanda. Kerajaan Buleleng berjuang hingga titik darah penghabisan yang disebut dengan PERANG JAGARAGA.Hanya dalam waktu dua hari pertempuran antara kerajaan Buleleng dan semua kerajaan di Bali melawan Belanda. BENTENG JAGARAGA runtuh sehingga mengakibatkan runtuhnya kerajaan Buleleng.
Pembahasan:
Belanda turut ikut campur dalam urusan Negara di
kerajaan.Belanda mengintimidasi raja Buleleng. Ketika perang jagaraga terjadi,
Belanda memaksa raja Buleleng untuk menandatangani sebuah perjanjian. Raja
Buleleng memang terlihat setuju, tapi dia malah memperkuat wilayah benteng
pertahanannya. Belanda murka mengetahui Raja Buleleng dan Patih Ktut Jelantik
melakukan hal itu.
Faktor yang melatarbelakangi
terjadinya perang jagaraga adalah sebagai berikut.
a.Adanya
peraturan hak tawan bagi raja-raja Bali, yaitu hak raja untuk merampas
kapal dan muatannya yang terdampar di Pulau Bali. Raja Buleleng merampas
kapal-kapal Belanda di Sangsit dan Prancah.
b.Belanda
menuntut supaya hak tawan karang dihapus, dan raja-raja Bali mau mengakui
kekuasaan Belanda di Bali serta mau melindungi perdagangan di Bali
Belanda yang memerlukan beberapa
ekspedisi untuk menaklukkan kerajaan Buleleng yang dibantu oleh sekutunya.
a. Ekspedisi I yaitu 18 Juni 1846)
b. Ekspedisi II “Perang Jagaraga I” yaitu 7 Maret 1848
c. Ekspedisi III “Perang Jagaraga II” yaitu 15-16 April 1849
Pada tahun 1849 Belanda mengirimkan
pasukan yang jauh lebih banyak, yakni 15000 pasukan lebih yang terdiri dari
pasukan Infanteri, Kavaleri, Artileri, dan Zeni. Serangan tersebut
dibalas oleh rakyat Bali dengan “Perang jagaraga ” yaitu bertempur
sampai titik darah penghabisan. Akhirnya, benteng Jagaraga jatuh ke tangan
Belanda. Setelah benteng Jagaraga jatuh, serangan diarahkan ke Klungkung,
Karangasem, dan Gianyar. Baru pada tahun 1906, Belanda dapat menegakkan
kekuasaannya di Bali.
Di tanggal 7 dan 8 Juni 1848, Belanda mendapatkan bantuan di
Pantai Sangsit. Di tanggal 8 Juni 1848, perlawanan di Jagaraga mulai dilakukan.
J Van Swieten memimpin perlawanan pasukan Belanda, sedangkan pihak Buleleng
dipimpin oleh Ktut Jelantik dan istrinya, Jero Jempiring. Dengan strategi supit
urang, lima orang opsir dan 74 orang tentara Belanda tewas, sedangkan 7 opsir
dan 98 tentara Belanda luka-luka. Karena banyak tentara Belanda yang
dihancurkan, pasukan Belanda menghentikan serangan dan kembali.
Karena Belanda kalah maka Belanda menyiapkan pasukan yang lebih kuat untuk
melakukan pembalasan. Di awal April 1849, datang tentara Belanda dari Batavia
ke Jagaraga. Di tanggal 15 April 1849, semua kekuatan Belanda diarahkan ke
Jagaraga untuk melakukan penyerangan.
Raja Buleleng, I Gusti Ktut
Jelantik dan Jero Jempiring melarikan diri ke wilayah Karangasem. Tetapi kemudian
mereka tertangkap dan dibunuh tentara Belanda. (Lt)
Label: Pengetahuan